Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Makna Dan Arti Perbait Puisi ‘Pahlawan Tak Dikenal’ Karya Toto Sudarto Bachtiar

Makna dan Arti Perbait Puisi ‘Pahlawan Tak Dikenal’ Karya Toto Sudarto Bachtiar

Pahlawan Tak Dikenal
Sepuluh tahun yang kemudian ia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang…
Sebuah lubang peluru lingkaran di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang…

Dia tidak ingat bilamana ia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa ia datang
Kemudian ia terbaring, tapi bukan untuk tidur sayang…
Wajah sunyi setengah tergundah
Menangkap sepi pedang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan bunyi menderu
Dia masih sangat muda…
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajah sendiri yang tak dikenalnya…
Sepuluh tahun yang kemudian ia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru lingkaran di dadanya
Senyum bekunya mau berkata: “aku sangat muda”
1955
Karya : Toto Sudarto Bachtiar
Klik Tautan untuk membaca biografi singkat Toto Sudarto Bachtiar.



Parafrase Puisi ‘Pahlawan Tak Dikenal’

Untuk memahami sebuah karya sastra puisi dengan mudah, maka perlu dilakukan parafrase terhadap puisi tersebut. Berikut ini ialah parafrase untuk puisi ‘Pahlawan Tak Dikenal’ hasil karya Toto Sudarto Bachtiar.

Sepuluh tahun yang kemudian ia terbaring
Tetapi (dia) bukan (sedang) tidur, sayang…
Sebuah lubang peluru (berbentuk) lingkaran (ada) di dadanya
(dalam)Senyum bekunya (dia)mau berkata, kita sedang perang…
Dia tidak ingat bilamana (kapan) ia tiba (ke medan perang ini)
Kedua lengannya memeluk (memegang) senapan (senjata api)
Dia (juga)  tidak tahu untuk siapa ia datang
Kemudian ia terbaring (di atas tanah), tapi bukan untuk tidur sayang…
Wajah(nya) sunyi setengah tergundah
(seakan) Menangkap sepi (mengiris seperti) pedang (saat) senja
(penduduk) Dunia tambah (merasa) beku di tengah derap (langkah orang) dan bunyi  (perbincangan)nmenderu (mengatakan bahwa)
Dia masih sangat muda…
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali (mengenang) memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, (justru) wajah-wajah sendiri yang tak dikenalnya…
(sudah) Sepuluh tahun yang kemudian ia (gugur) terbaring
Tetapi (dia tidak sedang) bukan tidur, sayang
(dia mati sebab tertembak) Sebuah peluru lingkaran di dadanya
Senyum bekunya (seolah-olah)  mau berkata: “aku (mati berjuang) sangat muda”

Puisi di atas ‘Pahlawan Tak Dikenal’ ditulis pada 1955. Tepat sepuluh tahun kejadian 10 November yang kemudian dikenang sebagai hari pahlawan. Bukan sebab banyak pendekar yang lahir pada 10 November, melainkan pada 10 November 1945 terjadi pertempuran sengit yang memakan korban jiwa banyak dari rakyat Indonesia di Kota Surabaya.

Sebuah kejadian penting dalam tonggak sejarah bangsa Indonesia. Dalam pertempuran 10 November, rakyat Indonesia memang kalah sebab persenjataan dan tentara yang tidak terlatih menyerupai tentara penjajah. Tetapi kejadian tersebut menyampaikan eksistensi bangsa Indonesia bahwa benar-benar ingin merdeka dan siap mempertahankan kemerdekaan.
Contoh Parafrase Puisi yang lain sanggup dibaca dalam beberapa artikel ini: Lihat dan Baca
Berikut ini makna puisi ‘Pahlawan Tak Dikenal’ dari masing-masing bait:

Bait pertama:
Sepuluh tahun yang kemudian ia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang…
Sebuah lubang peluru lingkaran di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang…

Menunjukkan bahwa tokoh ‘Pemuda Tak Dikenal’ sudah mati sebab tertembak. Terbuki dengan adanya baris ketiga yang tertulis, lubar peluru lingkaran di dadanya. Juga dibuktikan dengan adanya frasa ‘senyum bekunya’. Beku membuktikan bahwa seseorang telah mati.
Akan tetapi, tokoh Pemuda Tak Dikenal tidak sedih. Dia tersenyum. Berarti ini membuktikan bahwa ia nrimo mengorbankan jiwa raganya untuk bangsa.
Sementara penggunaan kata ‘kita’ membuktikan bahwa penyair ingin melibatkan setiap pembacanya, seluruh rakyat Indonesia dalam emosi puisi tersebut. Mengingatkan bahwa kita pernah mengalami hal semenyakitkan itu.
Bait Kedua:
Dia tidak ingat bilamana ia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa ia datang
Kemudian ia terbaring, tapi bukan untuk tidur sayang…

Bait kedua puisi di atas menggambarkan bahwa ia (Pemuda) tiba ke medan pertempuran sudah lama. Sampai tiadak ingat. Dia tiba berperang juga tidak tahu untuk siapa. Penggunaan kata ‘siapa’ mengindikasikan alasan kedatangannya ke medan pertempuran bukan untuk orang lain, tetapi untuk bangsa dan negaranya.

Meskipun karenanya ia gugur terbaring, tetapi sebelumnya sudah memegang senapan. Berarti sedang berperang.

Bait Ketiga:
Wajah sunyi setengah tergundah
Menangkap sepi pedang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan bunyi menderu
Dia masih sangat muda…

Kini wajah sang cowok penuang itu sudah sepi. Tak sanggup lagi berjuang. Di agak gundah, atau bingung. Menangkap sepi ketika sudah senja. Kata senja membuktikan final perjalanan. Jadi, final usaha cowok tersebut.

Selain dirinya dan senyumnya yang membeku. Orang-orang di dunia juga ikut terpaku dan terharu. Sehingga banyak pergunjingan di dunia internasional yang menyampaikan bahwa cowok pejuang itu masih sangat muda ketika gugur.

Bait Keempat:
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajah sendiri yang tak dikenalnya…

Setelah tanggal 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan, banyak orang yang berbondong ikut-ikutan memperingati. Kata hujan membuktikan bahwa suasana sedang sedih. Hujan identik dengan tangis.

Peringatan yang dilakukan sekadar peringatan. Sekadar merangkai bunga, tetapi tidak mengenal sang pejuang yang gugur, untuk apa ia berjuang sampai gugur. Yang tampak ialah keasingan yang tak dikenal. Tidak mengenal potensi diri, tidak mengenal potensi bagi negara.

Bait Kelima
Sepuluh tahun yang kemudian ia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru lingkaran di dadanya
Senyum bekunya mau berkata: “aku sangat muda”

Bait kelimat tersebut mengindikasikan bahwa kita harus mengenangnya. Setelah sepuluh tahun kemudian (puisi ditulis 1955), maka yang dimaksud ialah 1945, tahun proklamasi Indonesia sekaligus pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Dalam bait terakhir tersebut ‘hanya’ ditulis: mau berkata: saya sangat muda.

Baris terakhir sanggup dimaknai sebagai adanya somasi pada keadaany. Jika ditulis panjang sanggup berupa goresan pena menyerupai ini:
Aku masih sangat muda, sudah gugur di medan perang. Tidak mengharapkan imbalah apa atau jadi siapa. Semua yang kulakukan  demi negara Ini. Jangan buat mainan, jangan mengutamakan kepentingan diri sendiri, tetapi dahulukan kepentingan bersama.

Aku rela mati sangat muda. Kita harus sanggup menjalankan dengan baik kemerdekaan Indoneisa. Kemerdekaan Indonesia harus dibayar mahal. Maka sekarang kamu tinggal mengisinya masak masih sangat muda mengalah kepada keadaan.

Refleksi Puisi

Penjelasan di atas ialah bahan pengetahuan puisi ditinjau dari makna keseluruhan yang diterapkan.

Intinya: Banyak cowok tak dikenal yang gugur di palagan 10 November di Surabaya. Jika berhenti maka kita akan jalan terus.

Banyak cowok yang gugur sebab sudah angkat senjata. Kematiannya dalam usia yang sangat muda, semakin menjadi perhatian dunia. Gugurnya semakin menjadi deru perbincangan orang dunia internasional.


Demikian klarifikasi mengenai makna dan arti puisi ‘Pahlawan Tak Dikenal’. Semoga bermanfaat.